Lokasi Disaster Recovery Yang Ideal Untuk Anggota Bursa

Bursa saham merupakan tempat terjadinya transaksi yang tinggi hingga ratusan ribu transaksi per hari. Hal ini harus di dukung infrastruktur teknologi informasi yang kuat. Pencadangan sistem merupakan jaminan keberlangsungan operasional. Jika dalam satu jam saja terjadi kelumpuhan sistem maka potensi kerugian sangat besar dan juga berpotensi mengurangi kepercayaan para investor dalam negeri dan luar negeri. Situs pemulihan bencana atau disaster recovery center (DRC) untuk anggota bursa merupakan hal penting. Lokasi disaster recovery center akan menentukan kesuksesan dalam melaksanakan “fail-over” jika terjadi masalah pada data center pusat di IDX.

Memilih Lokasi Disaster Recovery Yang Ideal Untuk Anggota Bursa Efek Indonesia

Menentukan Lokasi Disaster Recovery Untuk Anggota Bursa

Situs pemulihan bencana merupakan aspek penting dari strategi bursa saham seperti BEI (Indonesia Stock Exchange) untuk mengatasi gangguan layanan bagi para pelanggan dan pengguna akhir. Dengan program BCP yang tepat, berbagai hasil bisnis dapat Dicapai. Beberapa kegunaan DRC adalah: perbaikan operasi bisnis, meningkatkan kinerja, kelincahan dan ketersediaan, mengurangi gangguan dan kerugian bisnis, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.

Agar strategi DR dapat bekerja sesuai desain, salah satu kontributor penting adalah situs Disaster Recovery. Situs DRC akan menentukan ketersediaan layanan kepada pelanggan selama terjadi gangguan. Rincian lebih lanjut tentang faktor yang harus diperhatikan untuk pemilihan lokasi DRC adalah dengan pendekatan.

Ada beberapa hal dalam menentukan lokasi disaster recovery center, terutama untuk sebuah bursa saham yang tergolong memiliki volume trafik yang tinggi.

  • Jarak dari Data Center utama

    Faktor lain yang akan membantu kita menentukan situs untuk DR adalah jarak antara situs utama dan DRC. Hal ini sangat penting karena akan mempengaruhi latency dan kinerja aplikasi. Menurut standar, regulasi dan praktik terbaik, lokasi disaster recovery center adalah dalam jarak 50 KM dari pusat data operasional utama.

    Sebagai ilustrasi, jika lokasi Disaster Recovery Data Center bertempat pada jarak yang lebih jauh, Bursa Efek Indonesia tidak akan mendapat cerminan data secara real time secara efektif. Hal ini akan menyebabkan risiko bahwa data akan hilang jika kita perlu beralih ke situs DRC. Di sisi lain, jika jarak terlalu kecil, backup data akan efisien tetapi akan menimbulkan ancaman lainnya.

  • Zona Seismik

    Zona seismik adalah daerah di mana aktivitas seismik tetap cukup konstan. Setiap negara telah membagi seluruh daerah di berbagai zona dan data yang tersedia di domain publik. Dari perspektif situs DRC, situs Primer dan DRC harus berada di zona seismik yang berbeda. Hal ini akan membantu dalam mengekang masalah yang timbul dari berbagai kegiatan seismik.

  • Detail Lingkungan

    Faktor berikutnya untuk dipertimbangkan adalah rincian lingkungan dari daerah tersebut. Ini bisa menjadi rincian cuaca, bahaya lingkungan dll. Hal ini akan membantu dalam merencanakan berbagai hal seperti ketersediaan sumber daya, mekanisme pembersihan lingkungan (jika diperlukan), konstruksi dan pemeliharaan situs dan sebagainya.

    Lokasi disaster recovery yang terlalu gersang dan berada dalam lingkungan sekitar pabrik tentu tidak lebih baik ketimbang lokasi disaster recovery yang berada pada lingkungan hijau yang lebih sejuk.

    Lingkungan lokasi disaster recovery juga harus berada di wilayah yang lebih sedikit berpotensi terjadi kerusuhan. Lokasi bebas banjir juga merupakan salah satu faktor penting dalam memilih lokasi disaster recovery center.

  • Aksesibilitas Data Center

    Faktor berikutnya adalah aksesibilitas ke situs disaster recovery center. Ini akan menjadi penting dalam kasus terjadi bencana dan operasional Bursa Efek Indonesia harus beralih ke situs DRC. Jika situs tersebut mudah diakses, operasi dapat dilanjutkan lebih cepat. Ini akan berfokus pada Moda transportasi untuk mencapai lokasi DR, Jarak ke bandara dan sebagainya.

    Selain itu jika terjadi kerusuhan, tentunya lebih baik lokasi disaster recovery center yang memiliki akses jalan lain. Dan sebaiknya, lokasi disaster recovery center para anggota bursa harus berada di wilayah yang memiliki tingkat demonstrasi masal atau demo buruh pabrik yang lebih rendah.

  • Jaringan Latency

    Agar strategi pemulihan bencana dapat bekerja sesuai kebutuhan, data harus disalin dari datacenter utama ke DRC. Latency jaringan memainkan peran utama dalam hal ini dan menjadi faktor penting saat memutuskan pemilihan situs DRC.

Bursa efek Indonesia (IDX) mencatat transaksi sekitar Rp. 8 Triliun per hari di tahun 2016. Selama dua tahun terakhir, IDX belum pernah mengalami downtime, walaupun serangan cyber meningkat ke lembaga keuangan. Hal ini juga membawa kita pada pemikiran tentang konsep keamanan situs disaster recovery center.

Terlalu besar resiko bagi IDX jika salah dalam memilih lokasi disaster recovery center. Kecepatan fail-over dan sinkronisasi data merupakan hal terpenting dalam strategi pemulihan bencana. Jika data center utama mengalami gangguan, dan fail-over berlangsung lebih dari 2 jam maka akan berpotensi kehilangan transaksi lebih dari Rp. 3 triliun.

Oleh karena itu, situs pemulihan bencana untuk anggota bursa tidak hanya berdasarkan harga yang termurah saja. Pertimbangan teknologi disaster recovery center juga merupakan hal penting mengingat serangan ke lembaga keuangan semakin meningkat. BEI tidak dapat mengandalkan DRC yang tidak update terhadap perkembangan teknologi alias hanya mengandalkan pada harga dan standarisasi saja. Disamping itu, efektifitas DRC harus dapat di ukur dan lebih baik lagi jika sudah teruji.

Sebaiknya IDX memilih disaster recovery center yang sudah teruji memiliki fail-over system yang cepat dan tidak pernah downtime.

Jangan sampai seperti bursa saham Singapura yang mengalami downtime pada Juli 2016. Hal ini akhirnya menyebabkan reputasi SGX menjadi terpuruk!

Comments are closed.