Di tahun 2017 ini perusahaan di dunia dan juga di Indonesia mulai berlomba-lomba dalam melakukan inovasi untuk memenangkan persaingan pasar. Dalam melakukan transformasi digital sudah barang tentu infrastruktur TI yang kuat merupakan penopang utama. Hal ini perlu dilakukan mengingat penyerapan DevOps cukup lambat di Indonesia.

Inovasi untuk rilis fitur terbaru akan memerlukan pengujian. Jika tidak menggunakan Docker sebagai platform yang dibutuhkan pada lingkungan DevOps maka dapat mengganggu operasional TI secara keseluruhan. Downtime dapat menyebabkan biaya mahal yang harus ditebus oleh perusahaan. Downtime juga dapat menyebabkan larinya pelanggan ke para pesaing. Untuk itu, perusahaan membutuhkan infrastruktur TI yang kuat dalam melakukan transformasi digital.

Lantas, infrastruktur TI apa saja yang harus diperkuat untuk dapat mendukung program tranformasi digital di perusahaan anda? simak ulasannya berikut ini.

Infrastruktur TI yang Kuat Merupakan Tulang Punggung Transformasi Digital

Sebagaimana yang kita ketahui, untuk perusahaan startup dapat menggunakan cloud namun harus memilih layanan cloud yang memiliki infrastruktur data center yang handal. Untuk perusahaan besar, tentunya selain menggunakan data center sendiri, colocation, dan juga menggunakan cloud yang di orkestrasikan bersama-sama.

Berikut beberapa infrastruktur TI yang perlu diperhatikan oleh para CIO dan pimpinan perusahaan dalam rangka menjalankan proses transformasi digital.

Infrastruktur Jaringan

Merupakan tulang punggung komunikasi data yang harus dijaga ketersediaan dari waktu ke waktu tanpa boleh terputus. Dengan mendapatkan sebuah fasilitas penempatan server (colocation server), anda dapat di untungkan dari ketersediaan jaringan komunikasi data. Banyak fasilitas data center yang menyediakan multi operator jaringan (Netral Network Data Center). Meskipun begitu, pengelolaan jaringan bukanlah hal yang sepele. Perusahaan harus dapat memantau dan mengukur kebutuhan setepat mungkin agar dapat menjaga kelancaran operasional dan menjaga efisiensi biaya. Untungnya, saat ini banyak pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengelola jaringan. Dengan virtualisasi dan otomatisasi pada jaringan, perusahaan dapat mengelola jaringan lebih efisien dan optimal.

Dalam rangka transformasi digital, jaringan harus mampu mengakomodir seluruh operasional hingga pemulihan jika terjadi gangguan pada sistem. Oleh karena itu, jaringan dibutuhkan untuk sebuah infrastruktur TI yang kuat dalam rangka menerapkan transformasi digital. Konfigurasi jaringan jika tidak dilakukan secara hati-hati dapat menyebabkan gangguan operasional dan ini akan meningkatkan potensi biaya downtime yang cukup besar. Disamping itu, jika konfigurasi jaringan tidak di otomatisasi maka para staff IT anda hanya akan menghabiskan waktu untuk hal rutin ketimbang melakukan inovasi yang dapat memajukan bisnis perusahaan. IT bukan sebagai komponen biaya saja saat ini, anggapan tersebut bergeser pada era transformasi digital. IT merupakan mitra inti dalam melakukan transformasi digital.

Infrastruktur Virtual Server

Perusahaan skala besar mungkin dapat memiliki ratusan server. Dalam mengelola server tersebut perusahaan menggunakan VMWare yang dikelola melalui Hypervisor. Dalam proses transformasi digital, anda akan menemui permasalahan vendor locked-in atau masalah seperti ketidak cocokan versi. Anda memerlukan suatu alat yang dapat mengelola secara agnostik dalam hal ini. Sebetulnya, dengan alat DevOps seperti Docker dan Kubernetes, anda dapat mengoptimalkan infrstruktur TI anda.

Dalam transformasi digital, banyak pembaruan yang muncul karena disebabkan inovasi yang terus menerus. Dalam hal ini, bisa saja anda terjebak pada satu vendor atau provider dan akan meningkatkan ketergantungan anda pada mereka. Infrastruktur TI yang kuat akan dapat berlepas diri dari ketergantungan dan mengoptimalkan sumber daya server mereka. Demikian dengan pemilihan perangkat server, juga perlu pengelolaan tersendiri dalam rangka pengadaan.

Infrastruktur Storage

Dalam hal penyimpanan, para praktisi IT harus dapat mengkategorikan jenis data dengan jelas. Sehingga, ada data yang dapat disimpan secara local, di cloud dan data kritis dapat di tempatkan pada sebuah data center yang aman sekaligus pencadangannya. Pemilihan perangkat penyimpanan juga harus disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing sesuai kategori data yang akan disimpan. Sehingga sebuah infrastruktur TI yang kuat akan selalu dapat mengakomodir seluruh kebutuhan dengan optimal. Khusus aplikasi kritis dan data inti harus di jaga pada sebuah fasilitas colocation server dengan tingkat keamanan yang tinggi baik secara fisik maupun teknis.

Infrastruktur Software

Dalam rangka transformasi digital, lingkungan DevOps harus dibentuk. Tidak ada pilihan yang lebih baik selain DevOps. DevOps merupakan sebuah pendekatan yang mengkolaborasikan bagian pengembang dan operasional dalam seluruh aspek. Peralatan DevOps seperti Docker, Kubernetes, Ansible, Chef, dan sebagainya merupakan pendukung inti untuk dapat melakukan transformasi digital. Ini dilakukan untuk dapat menjaga infrastruktur TI yang kuat di lingkungan anda. Jika tidak, pengujian rilis akan menyebabkan gangguan pada operasional yang berjalan. Sistem kontainerisasi dapat mengisolasi wilayah pengujian yang dilakukan secara langsung pada sistem berjalan. Sehingga, jika ada suatu masalah terhadap fitur baru tersebut, sistem dapat mengisolasi dan me-roll-back ke kondisi sebelumnya.

Infrastruktur Keamanan

Seluruh hal online merupakan incaran para peretas. Serangan cyber hampir terjadi di seluruh negara. Oleh karena itu, sebuah infrastruktur IT yang kuat akan menerapkan Zero Trust Network sebagai konsep keamanan mereka. Seluruh karyawan dan pelanggan mengakses aplikasi anda melalui gadget mereka (Bring Your Own Device / BYOD). Seluruh perangkat jaringan harus di pisahkan, mana yang untuk akses publik, akses internal, dan akses untuk misi kritis. Karena jika tidak di pisahkan, akan terlalu sulit mengenali ransomwaremalware, dan phising. Penegakan kepatuhan harus di tingkatkan, seperti dengan mengganti password secara berkala.

Selain firewall, infrastruktur TI yang kuat akan menempatkan sebuah agen keamanan di belakang firewall tersebut. Setelah tindakan pencegahan, tindakan pengenalan ancaman merupakan faktor penting selanjutnya untuk memperkuat infrastruktur keamanan anda. Kita dapat melihat dari serangan cyber ke Yahoo, Dropbox, Perusahaan Kereta Trem di Amerika Serikat, DDOS ke server DynDNS yang meruntuhkan beberapa domain besar dan pembobolan akun data pemilu di Filipina yang merupakan serangan paling fenomenal di tahun 2017. Serangan tersebut mengakibatkan kelumpuhan sistem, dan membawa kerugian pada bisnis yang yang menjadi target. Selain downtime, serangan tersebut dapat dengan cepat menurunkan kepercayaan publik.

Disaster Recovery

Ini merupakan pertahanan terakhir. Baik dalam rangka inovasi terus menerus dalam proses transformasi digital, maupun untuk keamanan. Dengan adanya disaster recovery, jika terjadi kelumpuhan sistem akibat salah konfigurasi jaringan, perangkat yang tidak berfungsi, hingga serangan, operasional anda dapat tetap berjalan. Disaster recovery merupakan fasilitas yang bisa anda dapatkan dari provider data center yang memenuhi syarat. Mereka akan menepatkan agen yang dapat mengenali kejadian-kejadian yang memerlukan pengalihan operasional ke sistem cadangan. Sehingga, transformasi digital dapat anda lakukan lebih leluasa tanpa harus dihantui downtime.

Kesimpulan:

Di tahun 2017 ini, seluruh bisnis akan berlomba pada inovasi teknologi yang mengedepankan cara baru yang lebih memudahkan konsumen. Hal ini menyebabkan transformasi digital sudah menjadi sebuah kebutuhan yang tidak dapat di hindari. Perusahaan yang berhasil melakukan transformasi digital dapat lebih cepat menguasai pasar, dimana semua orang telah terhubung dengan internet. Perubahan ini harus cepat di respon oleh perusahaan anda, jika tidak para pesaing dan perusahaan startup akan menjadi pendobrak pasar.

Perusahaan harus mempersiapkan infrastruktur TI yang kuat. Sebanyak 90% dari pemimpin perusahaan setuju bahwa infrastruktur TI yang kuat merupakan pondasi dasar dalam melakukan transformasi digital. Sebab, jika tidak memperkuat infrastruktur TI maka kegiatan transformasi digital akan mengganggu kinerja operasional dan bisnis anda.

Pin It on Pinterest

Share This