Setelah era Fintech telah ‘menyentuh’ Indonesia, sangat dimungkinkan era Asuransi Online atau yang lebih dikenal dengan INSURTECH juga akan menghampiri Indonesia. Ada pergerseran yang menarik untuk kita amati bersama dari konsep bisnis Asuransi Online ini.

Perusahaan asuransi sedang mengalami perubahan dan pergeseran. Fenomena ini mungkin bagi anda yang terbiasa berinteraksi dengan data penjualan premi asuransi akan sangat terasa. Penurunan daya beli masyarakat di Indonesia terutama pada kendaraan baru semakin parah. Ini juga mungkin disebabkan hadirnya transportasi online, dimana memiliki mobil di kota besar sudah tidak menjadi hal yang ideal. Konsep asuransi online dapat menjadi solusi!

Asuransi Online Merubah Konsep Bisnis Asuransi

Seperti kita ketahui, biasanya asuransi akan mengikat konsumen sekurangnya dalam 1 periode atau 1 tahun. Ini bisa kita lihat dari pasar premi asuransi mobil, kesehatan dan asuransi jiwa. Terutama untuk asuransi kendaraan dan asuransi jiwa, dengan teknologi informasi sekarang ini, periode tersebut dapat lebih fleksibel.

Pada acara Smart Fintech yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu di JHCC Senayan, deputy Fintech Bank Indonesia menjelaskan mengenai pergeseran ini. Asuransi online dapat menjual premi asuransi dengan konsep “on demand”. Ini artinya, periode premi asuransi tersebut sesuai kebutuhan.

Misal untuk asuransi kecelakaan atau asuransi jiwa. Anda dapat membeli asuransi online berdasar tiap perjalanan yang anda lakukan. Untuk asuransi kendaraan, misal anda jarang menggunakan kendaraan pribadi, anda dapat membeli premi asuransi online hanya pada saat anda menggunakan kendaraan anda sendiri saja.

Dari sisi konsumen, ini akan memberikan penghematan drastis, sementara dari sisi penyedia asuransi, hal ini dapat lebih menguntungkan namun harus mencapai kuantitas yang besar. Pada dasarnya, perubahan ini secara umum seperti menjual asuransi secara ketengan kepada publik. Asuransi online ini lebih bersifat sebagai “Asuransi Mikro”.

Kita bisa bandingkan perusahaan asuransi yang mengharuskan pembayaran premi untuk minimal 1 tahun, dengan perusahaan asuransi online yang mensyaratkan premi minimal 1 hari. Tentu biaya asuransi online akan lebih murah 365x lipat jika dibanding asuransi konvensional selama 1 tahun.

Misal, sebuah premi asuransi mobil all risk memiliki biaya Rp. 3.650.000 per tahun. Pada kenyataannya, anda hanya memakai mobil selama setahun hanya 100x. Dengan premi asuransi online, konsumen hanya membayar Rp. 1 juta per tahun. Tentu konsumen akan memilih yang sesuai kebutuhannya.

Tentunya, bagi perusahaan asuransi konvensional hal ini dapat menjadi gangguan bisnis jika tidak diatasi mulai dari sekarang. Pemain asuransi online diluar negeri banyak terbentur peraturan di negaranya. Kebijakan di Indonesia masih lebih fleksibel, dan pasar terhampar sebanyak ratusan juta orang.

Bagaimana Cara Menyikapi Pergeseran Ini ?

Kemudahan dalam membeli premi asuransi online akan menjadi faktor yang mempercepat pergeseran ini. Dimana sebelumnya pembelian premi pada asuransi konvensional membutuhkan proses yang lebih lama, tentunya ini akan mulai di tinggalkan konsumen saat asuransi online sudah beredar di Indonesia.

Perusahaan asuransi sebetulnya sama dengan perusahaan lainnya. Transformasi digital merupakan perubahan yang juga sebagai faktor eksternal yang perlu ditanggapi sebaik mungkin. Salah satu prinsip bisnis untuk bertahan adalah dengan merangkul perubahan itu sendiri. Semakin cepat mengikuti perkembangan maka semakin besar kemungkinan untuk bertahan dan mendapatkan keunggulan kompetitif dari para pesaing.

Cara yang paling singkat dan paling mudah untuk menanggapi perubahan ini adalah bekerja sama dengan perusahaan startup digital. Perusahaan startup digital dapat membuat aplikasi online dan mungkin sudah ada beberapa yang menyediakan layanan asuransi online.

Dalam hal transformasi digital, hal yang perlu dipersiapkan paling awal adalah dengan memperkuat infrastruktur IT untuk operasional bisnis anda. Tanpa hal ini, proses transformasi digital anda akan menemui hambatan di tengah jalan. Transformasi infrastruktur teknologi informasi merupakan landasan awal untuk melakukan transformasi digital.

Perusahaan anda bisa mencari saran pada konsultan teknologi informasi yang sudah berpengalaman mengantarkan perusahaan lainnya dalam transformasi digital. Mengingat asuransi online akan selalu melakukan inovasi pada fitur aplikasi dan fungsi bisnis internal, konsep DevOps perlu diterapkan.

Ini memang tidak semudah membalikan telapak tangan, akan tetapi dengan kesadaran akan pergeseran konsep bisnis dan prilaku pasar, tentunya komitmen anda sebagai pimpinan perusahaan akan menjadi modal utama untuk merubah bisnis anda menjadi asuransi online.

Investasi Perusahaan Asuransi Pada Teknologi Informasi

Perusahaan asuransi konvensional yang bertransformasi ke asuransi online meningkat drastis. Pada kuartal ke-2 di tahun 2017, investasi pada teknologi informasi di perusahaan-perusahaan asuransi tercatat naik 248% dengan jumlah investasi sebesar Rp. 13 Triliun. Dengan 64 transaksi, kuartal kedua meningkat hampir dua kali lipat dari 38 transaksi pada kuartal pertama. Ini menunjukkan bahwa perusahaan asuransi sedang meningkatkan laju investasi di bidang teknologi informasi.

InsurTech dapat mengkatalisis transisi dari model klaim ulang / klaim asuransi berdasarkan sekitar pembayaran dan pengendalian biaya kepada pihak yang memprioritaskan mitigasi klaim dan manajemen risiko. Ini dapat mengguncang fungsi asuransi tradisional dan tempatnya pada rantai nilai.

Kemudian, teknologi asuransi dapat digabungkan dengan teknologi keuangan (Fintech) untuk mendukung pendaftaran premi, pembayaran dan cek mutasi premi. Investasi pada teknologi informasi asuransi merupakan wujud nyata dari adopsi perubahan eksternal. Oleh karena itu, banyak perusahaan asuransi berlomba dalam kecepatan dan ketepatan melakukan transformasi digital.

Hal yang harus dipahami oleh pelaku bisnis asuransi, investasi pada teknologi informasi bukan berarti harus membeli semua infrastruktur IT yang dibutuhkan. Era cloud telah menyediakan kemudahan dalam hal ini, hanya saja anda harus menerapkan strategi terbaik untuk menjaga kelancaran operasional layanan secara non-stop 24 jam. Untuk dapat mendukung transformasi digital, ekositem digital perlu disiapkan setelah anda melakukan transformasi infrastruktur IT.

Asuransi Kesehatan Juga Akan Mengalami Perubahan

penggunaan smartwatch pada asuransi onlineAsuransi kesehatan juga tidak terlepas dari pergeseran yang disebabkan oleh perkembangan teknologi digital. Banyak perusahaan asuransi online yang menawarkan asuransi kesehatan menggunakan “wearable technology” seperti smartwatch. Dengan menggunakan perangkat IoT tersebut, perusahaan asuransi online dapat memberikan saran-saran kesehatan yang akan menurunkan rasio risiko claim asuransi.

Disamping itu, asuransi kesehatan terbaru ini dapat menghasilkan Big Data. Dari data tersebut, manajemen asuransi dapat lebih menyesuaikan kebijakan dan harga. Perusahaan asuransi online akan lebih mudah mengemas produk ke pasar. Disini persaingan akan terjadi, semakin baik pengumpulan dan pengolahan data tersebut, maka akan semakin dapat bersaing di pasar.

Dalam meningkatkan loyalitas pelanggan, asuransi kesehatan secara online akan lebih mudah melakukan hal tersebut disamping dalam penetrasi pasar. Ini disebabkan karena kemudahan dalam mendaftar, membayar, dan melakukan claim. Fleksibilitas pilihan jenis premi juga akan menjadi daya tarik tersendiri pada pasar asuransi dimasa depan.

Asuransi Online Menghadapi Tantangan Keamanan

Selain serangan cyber meningkat drastis, pencurian data pelanggan asuransi juga banyak terjadi. Ini dapat mengakibatkan biaya yang sangat mahal dalam menghadapi tuntutan. Biasanya, perusahaan asuransi online yang seperti ini tergolong malas dalam menggunakan jasa outsoucing IT, sehingga pengawasan dan akses keahlian sangat terbatas.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, praktik keamanan terbaik sesuai ISO 27001 perlu diterapkan. Perusahaan outsourcing IT yang telah mendapat sertifikasi tersebut dapat anda andalkan untuk menghadapi tantangan ini.

Inovasi pada aplikasi asuransi online anda akan membutuhkan pengujian, dan ini akan sering menyebabkan terhentinya layanan anda. Downtime per 1 jam dapat berpotensi menimbulkan kerugian dan biaya milyaran rupiah. Disini anda dapat memanfaatkan jasa pencadangan infrastruktur IT.

Pencadangan data dan aplikasi penting juga harus dilakukan. Sebelumnya hal ini akan membutuhkan biaya milyaran rupiah per bulan, dan hanya perusahaan besar yang dapat melakukan hal ini. Dengan munculnya era cloud, perusahaan anda dapat menggunakan jasa Disaster Recovery as a Services (DRaaS). Biaya per bulan untuk pencadangan infrastruktur IT anda dengan menggunakan DRaaS untuk perusahaan menengah hanya berkisar puluhan juta rupiah saja per bulan.

Solusi atas tantangan tersebut perlu diletakkan di awal perencanaan dalam hal transformasi digital. Oleh karena itu, transformasi infrastruktur IT dikatakan sebagai pondasi transformasi digital. Ini untuk menjamin operasional bisnis anda tetap dapat berjalan lancar selama 24 jam tanpa henti. Ingat, Asuransi Online akan selalu berjalan selama 24 jam.

Kesimpulan:

Pergeseran pada konsep bisnis asuransi tidak dapat dihindarkan. Pilihan bagi bisnis asuransi adalah dengan melakukan transformasi digital atau bisnis akan tergerus perlahan namun pasti. Untuk melakukan transformasi digital, perusahaan perlu melakukan transformasi infrastruktur IT terlebih dulu. Ini untuk mencegah terjadinya ‘cegukan’ di tengah proses transformasi digital.

Transformasi digital tidak hanya berguna untuk mempertahankan bisnis, tapi juga untuk mendapatkan daya saing yang lebih tinggi. Transformasi digital juga dapat meningkatkan loyalitas pelanggan, memudahkan penetrasi pasar, menghemat biaya operasional dan mempercepat proses bisnis.

Oleh karena itu, mulailah sekarang juga untuk melakukan transformasi digital.

 

 

 

Pin It on Pinterest